Mujahadah mencari keredhaan ILLAHI..

Monday, July 19, 2010

~kepahitan dan kemanisan~

~salam ukhuwah~
kepahitan atau kemanisan?..sesuatu yang kita boleh rasa..malah kita diciptakan mempunyai lidah untuk merasa pahit dan manis sesuatu makanan...ada yang suka waktu pahitnya...ada yang suka pada manisnya..jadi sudah ternyata kita punyai citarasa yang berbeda dari yang lain..
namu pernahkah kita melihat pahit atau manis suatu kejadian ataupun mungkin lebih tepat kalau di sini saya nyatakan ia dalam bentuk ujian ALLAh swt terhadap kita...
"saya bukan seorang pendakwah yang bercakap bertunjangkan hadis2...juga bukan penulis yang mempunyai susun tatabahasa yang indah..untuk dibaca...cuma sekadar menyuarakan apa yang saya rasa..berkongsi suatu yang telah saya lalui dam mungkin ianya hanya la satu omongan kosong berdasarkan upaya akal yang ALLAH swt anugerahi ini..."..jadi, saya hanya bercerita~..tentang kemanisan dan kepahitan dalam hidup ini....
takdir menentukan semua manusia mengalami hidup atau mungkin keadaan yang berbeza dari segi fizikal mahu rohaninya....ada yang pada usia mudanya..hidup penuh kemewahan tanpa mengenal siapa PENCIptanYA....namun ada juga yang hidup bersederhana namun masih alpa..yang makin mendukacita kan bila yang hidupnya serba kekurangan..namun, dalam hidupan rohaninya jauh kekurangn dari fizikal yang dimilik..kerana meletakkan diri jauh dari ALLAh SWT...
kita mengenal erti SABAR..namun pernahkah kita mendalami apa itu sabar...apa sebenarnya yang menuntut kita bersabar...SABAr menghadapi UJIAN ALLAH Swt..adlah setinggi 2 erti sabar..maka bersabarlah kamu dalam meniti hidup ini dalam keredhaanNYA....
UJIAN ALLAH swt adalah satu rahmat...mungkin berbentuk kesenangan...kerana ingin menguji hamba yang bersyukur padaNYA di saat dikurniakn kemewahan di dunia...dikurniakan kejayaan...kelalaian..ketaksuban terhadap harta..akan mengetuk pintu iman....mnggoncang dan mnggugat hawa nafsu...andai IMAN di dada belum cukup teguh..kita akan rebah..kita akan tunduk pada tuntutan nafsu ini...jadi sandarkan diri pada ALLAh SWT..mohon kekuatan diberi ketaqwaan dan sentiasa bersyukurlah jika dikurniakan ALLAH swt sesuatu yang baik...sesuatu yang dihajatkan...."
namun, tidak kurang orang2 yang diuji imannya oleh ujian atau musibah yang menekan jiwa mereka...ujian yang berat..namun, ALLAh hanya menguji orang yang mampu diuji~...malah ingin mengangkat darjat hambaNYA yang redha dengan ujian yang diberi padanya...namun, bayangkan...andaikan ujian itu diberi tika kita masih belum tahu erti sebenarnya suatu ujian terhadap diri kta...pasti terdetik di hati kita...takdir yang bersikap tidak adil pada diri kita...kerana waktu itu kita tidak faham...kerana di usia itu...kita tidak bersedia menerima ujian seberat tu...namun di tika waktu kesusahan ..kita mula mencari ALLAh SWT..kerana kita mengakui hanya DIA yang MAHA berkuasa atas semua makhluk di bumi ini....hanya dia yang mempunyai penawar untuk segala2 nya..."..jadi bersyukurlah~.seteruk mana ujianmu..ALLAH swt sentiasa mendengar rintihanmu.ALLAh SWT sentiasa membuka pintu ampunan / taubatNYA untuk hamba2 yang betul2 bertaubat dan memohon keampunanNYA....

ade satu artikel~.bca dan fahami..di mana kite berade?..diMANA kita!?

Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Indahnya hidup dengan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan- Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”




Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawab kan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.


juga sedikit cebisan mengenai SABAr dalam menghadapi laluan kehidupan~~
Faktor Yang Mengukuhkan Sifat Sabar

i. Mengenali hakikat hidup di dunia

Manusia kerap hilang kesabarannya kerana salah fahaman tentang hakikat hidup. Dunia ini bukan sebuah syurga yang penuh nikmat dan kekal, tetapi sebuah tempat Allah menguji manusia sebelum manusia ditempatkan ditempat yang kekal iaitu syurga. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud ;
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”

Surah Al-Balad : Ayat 4

Jelaslah bahawa jika kita sedar dunia ini tempat ujian. Maka kita kenalah bersabar bila kita ditimpa kesusuhan.

ii. Mengenali Diri

Jika kita mengenali diri kita adalah milik Allah dan apa yang ada pada kita adalah anugerah Allah yang sementara. Maka apa juga yang berlaku pada kita dan harta benda kita akan mudah dilalui dengan sabar. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud ;
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Surah An Nahl : Ayat 53

Jika kekayaan dan kuasa yang ada pada kita hilang, maka sebenarnya kita tidak perlu risau kerana Allah yang memberinya dan ia telah mengambil kembali. Dengan itu terbentuklah rasa sabar dan menginsafi diri.

iii. Menyakini Ganjaran Di Sisi Allah

Firman Allah S.W.T. yang bermaksud ;
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Surah Az Zumar : Ayat 10

Mereka yang yakin bahawa Allah akan memberikan ganjaran yang besar kepada mereka yang sabar dan akan terus dapat membina rasa sabar.

iv. Yakin Kepada Pertolongan Allah

Orang yang beriman hendaklah yakin akan tiba pertolongan Allah juga. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud ;
“Oleh itu tetapkan kepercayaanmu, bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan.”

Surah Al Insyiraah : Ayat 6

Dengan menyakini pertolongan Allah akan membolehkan kita membina kesabaran di hati.

v. Memohon Pertolongan Allah

Mohonlah pertolongan Allah untuk bersabar dan untuk mengatasi kesusahan dan ujian Allah. Sesungguhnya hanya Allah yang berkuasa menjadikan kita bersabar dan berjaya menghadapi ujiannya. Dan Allah telah berjanji untuk memberi kemenangan kepada mereka yang bersabar.

vi. Mencontohi Orang Yang Bersabar

Menghayati kisah orang-orang yang diuji oleh Allah dengan ujian yang besar akan menjadikan kita lebih bersabar menghadapi ujian Allah S.W.T.

vii. Menjauhi Penyakit Penghalang Sabar

Antara penghalang kepada sifat sabar ialah :

a) Gopoh dan tergesa-gesa. Firman Allah yang bermaksud ;
“Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

Surah Al Anbiyaa’ : Ayat 37

b) Marah. Sifat marah menyebabkan manusia hilang sabar, pertimbangan, gelisah dan membawa kepada kekecewaan.

c) Terlampau sedih.

d) Putus asa.

No comments: